Sunday, 16 June 2013

Sepenggal Sinopsis 'Siluet Senja'











Pijar itu…
Memberikan hangat di ronggaku
Menggeliat pelan mengalir membasuh kebekuan dalam lorong sunyi bilik jantungku
Dan kala kucoba tuk raih pijar itu,
Jari dan tanganku gosong dan meleleh
Urung…
Segala asa yang tertanam gagal tuk kuraih
Lewat isyarat sebuah pijar…

Siluet Senja. Ya, puisi di atas adalah kutipan dari novel yang berjudul Siluet Senja karya Guslaeni Hafidz dan Ria Fariana. Itu adalah satu dari dua novel yang paling aku suka. Ah, ceritanya.. mengharukan! Sungguh! Aku benar-benar merasa tenggelam, lagi. Ya, ketika aku membaca ulang puisinya rasanya konflik dalam cerita itu kembali muncul dan mengepungku. (lebay :D )


Meta… adalah nama tokoh dari novel itu. Gadis SMA dengan kehidupannya yang begitu renyah. Ya, renyah. kalau aku bilang sih the real anak SMA (maksudnya jeng?). Ya betulah, candanya, tawanya, ah.. manis sekali. Sampailah pada pertemuannya dengan Steave. Kakak sahabatnya, Jane. Pria blasteran Indo-polandia itulah yang membawa cerita baru dalam hidupnya. Cerita klasik anak remaja. Namun, perjanjian Meta dengan sahabat-sahabatnya untuk tidak pacaran sebelum lulus SMA rupanya membawa warna tersendiri bagi mereka. Dingin dan penuh gejolak tak menentu.

Ujian kelulusan pun usai. Meta diterima di Perguruan Tinggi Negeri di kota Surabaya. Di sana rupanya Allah tengah menitipkannya pada lingkungan yang benar-benar menjaganya. Ya, lingkungan dengan atmosfer tarbiyah islamiyah (baca; pendidikan Islam) yang begitu menyejukkan. Lingkungan inilah yang membawanya pada titik perubahan.

Meta mengalami pertentangan batin yang begitu hebat. Pergolakan yang begitu menyiksa batinnya menggerayangi hari-harinya. Steave, begitu ia mengingatnya ia serasa berada di kubangan lumpur yang begitu pekat. Ya, teramat pekat. Ia merasa menjadi seorang penghianat. Penghianat pada cinta-Nya. Pada Dia Sang Pemilik Cinta.

Pada akhirnya Meta memilih cintaNya, cinta hakiki yang selama ini ia cari. Ia merasakan kedamaian di sana, tenang, nyaman… tidak seperti cintanya yang pernah ia jalani dengan Steave. Ia ingin Steave juga merasakannya. Namun, sampai pada akhir hidup Steave ia belum juga bisa membuat Steave mengerti akan keputusannya. Ya, sampai akhir hidup Steave. Steave menghadap-Nya dalam perjalanan mengantar sepucuk surat balasan untuk Meta. Dan inilah surat Steave yang begitu menyayat hati Meta… Sepucuk surat berbingkai siluet senja…

Dearest Meta,

  Aku berusaha memahami arti cinta seperti yang kau rasakan. Cinta yang suci dan hakiki adalah cinta Ilahi. Tapi, jangankan merasakannya, menyentuhnya pun seakan aku tak kuasa. Cinta itu begitu agung sedangkan aku begitu kotor. Aku terbenam dalam lautan cinta yang tak kupahami. Aku menggapai-gapai dalam kesendirianku. Kehadiranmu begitu berarti untuk membimbing langkahku yang tertatih-tatih. Tapi dirimu terlanjur menjauh dan aku tak kuasa untuk berlabuh.

  Pelita hatiku telah padam sedang aku masih belum mampu menggapai pijar yang katamu Maha Indah nan Terang itu. Mungkin aku terlalu naif, tapi aku pun ingin hidupku berakhir penuh arti. Paling tidak, syahadat dan keimanan masih melekat di dalam hatiku. Meski hanya secuil.

  Menangislah jika ingin menangis. Karena perjalanan hidupku memang pantas untuk ditangisi. Tapi setelah itu, hapus air matamu dan pandang duniamu dengan lebih terarah. Doa kubingkiskan untukmu dan sematkanlah secuil doa bagi jiwa yang rapuh ini. Hanya Allah Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita dan aku tak akan pernah bisa melawan takdirNya.



Steve (Yang masih belajar tentang arti cinta)

No comments:

Post a Comment